Ini, Itu, Begini, Begitu

John

oleh: Harri Gieb

Telah kami sempurnakan kesedihan dengan melanjutkan usia yang menggerutu. Sebab diri adalah tubuh yang mendua karena keputusan-keputusan. Pikiran yang terlalu terbuka membuat kami bebal dengan keyakinan. Karena kami tahu, hidup tak sepenuhnya bisa diprediksi. Mitos selalu berhasil membawa kami ke dunia entah. Membuat kami kerdil. Sedemikian kerdilnya. Sehingga tidak bisa membedakan. Apakah ini tikungan atau Tuhan? Kami sepakat, tidak karena percaya ini dan itu, kemudian hidup kami menjadi utuh. Tetapi karena kami menyeru sekian alam, hidup kami menjadi. Karena kami menyimpan pertanyaan, hidup kami menjadi. Karena kami meracau, hidup kami menjadi. Karena kami tersungkur, hidup kami menjadi. Karena kami kosong, hidup kami menjadi. Kata adalah kesalahan pertama yang kami maklumkan. Sebagai penanda, bahwa tak semua hidup dibangun dari kisah yang bahagia. Tetapi kami tak risau. Tak pernah. Selebihnya, kami berjalan dengan kemustahilan. Dan kau tahu. Kemustahilan itu selalu tak diakui. Ada orang-orang yang mengamini sebuah kami, tapi mengkafirkan kami yang lain. Justru karena sebab itu, kami menjadi enigma. Kami seperti sesuatu yang mustahil, tapi banyak artinya. Setidaknya dengan begitu kami jadi paham, dunia tetap ramah dengan kesepian, dalam kesepian. Kira-kira begitu, John. Tiap kali kami berkaca bersama, kami diingatkan, mimpi adalah jejak yang tidak satu.

Gieb

oleh: John Ferry Sihotang

Ya. Bahwa mimpi memang bukan jejak yang satu. Kami membangun mimpi-mimpi dalam tanda tanya tak berujung. Tak sanggup menjawab semua pertanyaan ganjil. Hingga kami puas dalam muskil: bahwa nilai pertanyaan sama dengan jawaban. Boleh saja kau anggap ini perdamaian yang semu. Tepatnya, kami membiarkan menggantung. Membiarkan ada menjadi. Dengan perlahan membuang segala kenangan, ke dalam lubang kemustahilan. Mencoba membentuk tubuh perlawanan. Menanggalkan beberapa pakaian usang, bersama penanda tubuh kami yang terburu-buru ingin menelusuri hasrat kelana bulan purnama.  Namun  kami tak ingin membiarkan sungai bermuara dengan cepat. Cukup bergoyang bagai bandul, mencari kami yang lain: keseimbangan sebuah enigma.

Begitulah cara kami mulai menikung dalam kiri. Dengan Menghibur prediksi dan menemukan Tuhan. Mengekalkan kembali semua ingatan tentang sapa dan jumpa yang hadir begitu saja, tanpa pembicaraan tentang rinai hujan atau debur ombak. Kami hanya mampu berkompromi dengan defenisi. Dalam perbedaan sejauh timur dari barat. Dalam uban, keyakinan, dan entah. Hingga kami lelah dengan kutub. Lantas mencoba kafir bersama dalam debar yang bergetar. Berlari memunguti puncak yang ultim diatas semua puncak yang lain.

Kira-kira begitu, Gieb.

John

oleh: Helena Adriany

ketika kau datang, John. tanganmu menggenggam mesin penafsir yang telah beranjak meninggalkan musimnya. yang membuatmu mengikuti jejak-jejak yang tak menuntunmu kemana-mana. tetapi menuju kepada mimpi yang sedang dibangun di atas kemustahilan.

kau tercengang memandang imajinasi yang bergerilya menguntit chaos yang dibangkitkan oleh tubuh. maka kau bertanya tentang hujan dan petir yang tak pernah membuat galau kaki langit. karena kau sedang berusaha meredakan kisaran jutaan serat yang menamparmu dari semua sisi.

kau terbentur pada mitos yang diibangun untuk mengabadikan apa yang kedaluarsa namun kau tak hendak mengabaikan esensi yang bermain-main di kesetaraan. perjalanan bukanlah jawaban atas pertanyaan. tak ada yang berimbangan dengan harapan. maka ada logika yang merasionalisasi yang diperlukan, meski iman bukan hal yang mustahil mendatangkan jawaban-jawaban.

Helena

oleh: John Ferry Sihotang

Di kaki langit yang mencium ujung samudera aku pancangkan harapan . Aku sedang berenang menuju kesana. Masih mengambang, mengapung, mengayun. Perlahan mengayuh, terombang ambing. Begitu banyak karang dan lumut menghadang. Ombak dan badai pun memecutku tuk berlari. Hujan dan petir juga menghardikku untuk memberangus amuk serat galau. Akan tetapi, segala rintangan tak membuatku menyerah pada langit yang menghujankan kelaziman.

Kuakui, aku sudah mulai jengah dengan posmodernisme. Walau aku bukan seorang moralis. Aku mulai melirik kearifan lokal. Mulai bersekutu dengan ikhtiar udik. Dan aku bangga dengan identitas kampunganku. Walau aku masih linglung di beberapa tikungan. Tapi aku terima realitas dengan lantang. Aku hadapi dengan tenang di tebing kesadaran. Dengan mencoba mengurai tiap kemungkinan dari mesin tafsir yang purba. Iman dan cinta kasih memang kerap melekat. Tapi harapan itu tetap menjadi pencarian. Dalam perjalanan, perjalanan keheningan. Mencari ada, mengada, dan menjadi.

Kira-kira begitu, Helena.

Gieb, John, Helena

oleh: Cepi Sabre

menarik memperhatikan bahwa gieb adalah perjalanan, adalah racauan. melompat dari satu tikungan ke tikungan yang lain. gieb si pejalan kaki.

di sisi lain, john sedang mencari. atau menemu. atau berdamai. dalam istilah helena: mendatangkan jawaban-jawaban. meredakan tamparan yang datang dari segala sisi.

perjalanan gieb adalah perjalanan menjadi bukan mencari. kupikir. kira-kira. jadi helena benar, mengikuti tidak membawamu ke mana-mana. di titik ini, kupikir, es batu itu, sungguh diperlukan.

Cepi

oleh: John ferry Sihotang

Pencarian kebijaksanaan sudah jadi keniscayaan. Dan anehnya, aku bahagia dengan pertanyaan. Bermetafisika. Membuatku mengesampingkan jawaban. Karena aku menemukan kepuasan di tiap kemungkinan. Mencoba menafsir, mengurai, lalu membongkarnya. Berulang-ulang. Bukan dengan kompromi. Tapi memeluk semuanya dengan tegar. Aku pun tak mau terjebak dalam dikotomi: mengikuti atau menolak. Bukan pula mencoba membuat seolah semuanya relatif. Tak selamanya juga menguduskan tubuh paradoks. Namun dengan mengakui adanya kemungkinan. Bahwa jejak chaos partikular itu sudah bagian dari kosmos tubuh kita. Anggaplah aku hanya si bayi mungil pemilik mata polos dan kosong. Yang melihat semua dengan cakrawala baru.

Aku masuki kereta bersama para peracau. Dan di stasiun racau itu aku menemukan kebenaran masa kecilku. Bisa Tuhan bisa entitas lain, seperti kekasih atau es batu. Berkelebat di ujung kutub yang tak mampu terurai dengan absolut. Hanya membiarkan saja. Berjalan, merangkak, sesekali melompat, entah sampai kapan. Menggantung di bibir labirin keentahan. Lalu aku dan dia, kami, bergulat disana. Membuat deklarasi dengan tanda koma. Berdarah-darah mencari jalan keluar. Dan kami tersesat disana. Dengan sangat nyaman.

Demikianlah kami adanya, Cepi.

John

– oleh Helena Adriany –

ketika galau tak juga hendak beranjak meski tanganmu telah menggapai di keleluasaan, ada sekelumit kehendak untuk menuntaskan kejemuanmu. peradaban bukanlah musuh utama humanis, meskipun lebih jauh dengannya akan membunuh sebagian besar naturalis. kau yang tak pernah diam mendadak membatu kala berhadapan dengan yang tak tersentuh. akal sehat. diam-diam kau mengamini yang jauh dan beku sementara dipangkuanmu kau mendapati yang meleleh dan menghangatkan cawan adalah membingungkan. kau tantang matahari dengan sejuta kemungkinan yang membahas absurditas namun mengabaikan semilir angin yang datang dengan jawaban bagi hari ini. andaikan bening telaga dapat menghentikan larimu dan mengajakmu sejenak berkaca. dengan tinggal tenang dan percaya disitulah terletak kekuatanmu.

Gieb, John, Helena, Cepi

– oleh Awan Hitam –

“Tiap kali kami berkaca bersama, kami diingatkan, mimpi adalah jejak yang tidak satu.” (Gieb)

“Kami hanya mampu berkompromi dengan defenisi. Dalam perbedaan sejauh timur dari barat. Dalam uban, keyakinan, dan entah”. (John)

“Maka ada logika yang merasionalisasi yang diperlukan, meski iman bukan hal yang mustahil mendatangkan jawaban-jawaban”. (Helena)

“Tapi aku terima realitas dengan lantang. Aku hadapi dengan tenang. Dengan mencoba mengurai tiap kemungkinan dari mesin tafsir yang purba. Iman dan cinta kasih itu memang kerap melekat. Tapi harapan itu tetap menjadi pencarian”. (John)

“Di titik ini, kupikir, es batu itu, sungguh diperlukan”. (Cepi)

“Dan kami tersesat disana. Dengan sangat nyaman”. (John)

“Diam-diam kau mengamini yang jauh dan beku sementara dipangkuanmu kau mendapati yang meleleh dan menghangatkan cawan adalah membingungkan”.(Helena)

**

Tulisan yang bersahutan dan seolah olah dari barat menuju timur dan kembali berputar ketimur menuju barat. Hehehe. Berecerita tentang yang ini dan yang itu.Mengingatkan sebuah lagu dari Broery. Hehehe. Peace sahabat semua.

Aku setuju sekali, tulisan ini menyimpan dan penuh makna bagi masing masing penulisnya. Berbicara tentang mimpi dan harapan seperti bait dari Gieb, yang menyatakan bahwa mimpi adalah begitu beragam dan penuh kemungkinana, dan menyadari diri bahwa mimpi satu sama lain bisa berbeda dan tidak sama dan menyadari diri dan dia adalah sebagai individu yang unik dan memiliki kebebasan namun disitu juga terletak kebersamaan yang menguatkan dengan menyadari perbedaan itu.

Kemudian John berbicara tentang apa apa yan perlu dibuat komitmen dalam rentang perbedaan yang ada.Tentang definisi dan tentang kesepakata, yach mungkin begitulah jalan tengah untuk menyesuaikan diri dalam kebersamaan itu.

Dan Helena menekankan bahwa untuk hal itu diperlukan suatu rasionalitas, ataukah iman, untuk meyakini hal itu, sebagai jalan untuk menguatkan satu sama lain. Dan mudah-mudahan dapat ditemukan suatu titik temu dalam menyatukannya. Sebagai jawaban jawaban yang mungkin yang bersifat melegakan dan kompromistis.

John kembali menekankan tentang suatu hal perlu keyakinan: bahwa harus diyakini diri sepenuh hati, untuk menerima realitas secara lantang, dan pencarian untuk pemahaman diri atau pun entah itu, entah sebagai kebersamaan, ada jalan lain: jalan harapan yang kuat.

Selanjutnya Cepi mennjukan bahwa es batu adalah dibutuhkan,mungkin dimaksudkan untuk berpikir kembali secara dingin atau berusaha untuk menyegarkan diri dalam pemaknaan yang mungkin.Mungkin Cepi suka sekali dengan es batu, ataupun minum es, untuk mendinginkan kepala dalam mengahdapi realitas yang terjal dan berliku.

Mungkin bagi sebagian orang, diri dan dia, mungkin tersesat, namun seperti tersesat dihutan dan menemukan rumah kayu sunyi, dan distu diri dan dia merasakan nyaman dan saling menemani dalam kesunyian. Begitulah John menimpalinya.

Akhirnya, Helena menutup dengan kembali menyadari realitas bahwa semua yang di bicarakan bahwa tentang ada yang jauh, bahwa ada yang jauh yang membentang. “diam-diam kau mengamini yang jauh dan beku sementara “. Apakah itu beku sementara? Semoga buliran di cawan menyadarkan selalu menujukan pertemuan dan harapan.***

*Hasil diskursus racauan yang entah

Titah

oleh: john ferry sihotang

sehelai benang perak uban rambutku
dan uban rambutmu
adalah lukisan cakrawala
di sana mesin mesin tua
di telan dahaga jiwa
nada dadaku
ingin pulang padamu

aku berjiwa dengan semesta
saat embun bersama tanah basah
saat langit sunyi bintang memudar
saat awan tersedak isak hujan
mendendang tembang lagu jiwamu

aku kenang kembali awal jumpa kita
cetus percik api
lalu dawai dawai hati
lalu rindu rindu sepi
aku abumu saat sebatang kayu
kamu apiku saat malam berlalu

dada kita nama bersama

aku ayunkan kembali langkahku
di titah itu
di tanya itu
Tuhan datang di tidur malamku
ke bukit-bukit memantul sunyi
ke akar rumput-rumput mati

pernahkah aku dan kau jadi satu, di bibirNya?

2010

Kebenaran Cinta Nietzsche

Memang tak ada kebenaran absolut. Kebenaran bagi kita dan Nietzsche adalah sebuah fungsi aktivitas. Sesuatu yang sering kita lakukan, semisal menihilkan kesepian. Kebenaran adalah hidup itu sendiri. Hidup yang meluhurkan “kehendak untuk berkuasa”. Suatu dinamika. Realitas yang terus berubah. Tak pernah statis untuk segala waktu dan tempat. Seperti ciuman gila nostalgik yang kita lakukan di pojok ATM. Pun kriteria kebenaran rindu adalah kriteria fleksibel. Sebuah “ilusi”, sebagai suatu fiksi penuh manfaat. Namun selalu menuntut niat perjumpaan. Membimbing kehendak untuk berkuasa dalam chaos besar dan monumental: meggetarkan dinding malam dan langit berbintang.

Percumbuan adalah salah satu “bentuk khusus” dari kehendak untuk berkuasa. Karena hidup sudah terlanjur dipenuhi insting-insting yang dikendalikan sebuah kekuatan yang dominan: intelegensi, suara hati, dorongan seksual, bau alkohol, dsb. Penggabungan perbagai kekuatan itu senantiasa memicu dentuman besar ekspresi diri. Sehingga, kita bercumbu bukan untuk berada, melainkan kita berada untuk bercumbu. Karena kebenaran adalah apa yang kita kerjakan, bukan yang kita temukan atau kita miliki. Dan sublimasi kehendak untuk berkuasa adalah mengasuh insting primordial itu, sebuah proses vital. Walau kerap jadi fakta brutal dalam telanjang yang terburu-buru.

Pun pergumulan kita selalu merujuk pada Nietzsche: sebuah Dinamit! Dinamit hasrat yang selalu meledak di bilik malam. Banyak yang memuja, namun lebih banyak tetangga yang mengutuk. Karena seakan sebuah ketidakseriusan. Suara kenikmatanmu melolong membongkar ketenangan malam. Kehendak untuk berkuasa terbaik adalah bercinta, dan bukan yang lain, katamu membela diri. Kau menguasaiku sepenuhnya, dan aku mengafirmasinya dengan utuh. Malam-malam kita pun menjadi ajang perebutan posisi kekuasaan tindih. Proposisi ambiguitas hunjam, kontradiksi pagut, paradoks desah, mobilitas debar dan perubahan degup, berikhtiar terus-menerus. Ya. Sebuah diskontinu. Melegitimasi ketegangan dan permusuhan: saling menaklukkan. Satu bentuk tendensi eksistensial atau gerak fundamental dalam dominasi cumbu. Yang berakhir dengan asimilasi jumlah kekuasaan: saat kelamin mengada, menyata, dan meledak dalam keselarasan tubuh yang lunglai. (2010)

Daftar Pustaka:

Grimm, Ruediger Hermann, Nietzsche’s Theory of Knowledge, Berlin, New York: Walter de Gruyter, 1977

Kristianto, Dwi , Konsep Friedrich Nietzsche Tentang Kebenaran, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara Tahun XXVII, No.2, Jakarta 2004.