Posts Tagged ‘Puisi Peristiwa’

DISKURSUS SASTRA

Puisi, Kota, Urbanisasi

Oleh Bandung Mawardi

Urbanisasi adalah dilema tanpa akhir dalam kompleksitas perkara politik, ekonomi, sosial, identitas, dan kultural. Urbanisasi menjadi risiko modernitas. Dilema urbanisasi selalu memberi pesimisme tanpa solusi. Utopia-utopia dari laku urbanisasi selalu menutupi pesimisme dan mimpi buruk. Taruhan nasib untuk hidup mungkin janji sepele dari mitos urbanisasi.

Mitos itu representasi kesuraman modernitas. Georg Simmel mengakui bahwa modernitas digerakkan oleh kota dan ekonomi uang. Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan. Ekonomi uang adalah sebab penyebaran modernitas. Kota dan uang memberi utopia dengan peringatan kematian dan siksaan. Orang-orang pun terus menunaikan urbanisasi seperti pengesahan atas utopia modernitas.

Afrizal Malna dalam puisi Bis Membawa Mereka Pergi (1990) mengisahkan urbanisasi dan risiko-risiko modernitas. Afrizal Malna menulis: Dengan bis yang asing, kami tinggalkan rumah-rumah/tak berlistrik. Berangkat ke negeri-negeri baru, tumbuh di/sepanjang jalan. Bis adalah metafor gerak perpindahan atau mobilitas dalam pengertian geografi, biografi, kultur, sistem, ide, impian. Utopia urbanisasi adalah taruhan dengan rentetan tanda koma mencari tanda titik meski tak pernah ditemukan. Urbanisasi menunjukkan sistem dan mekanisme untuk merealisasikan kehidupan dalam represi dan depresi.

Kisah urbanisasi adalah kisah resmi di negara-negara berkembang. Urbanisasi menjadi dilema atas utopia modernitas. Ignas Kleden (1988) menjelaskan bahwa pola modernitas di negara-negara berkembang mengandung ciri urbanisasi sebagai mobilitas fisik dan sosial-kultural dari desa ke kota. Fakta keras dari urbanisasi: ketimpangan pekerja dan kerja. Urbanisasi pun menjadi pilihan untuk perubahan nasib dari desa ke kota, dari tradisional ke modern, dari gelap ke terang, dari pesimisme ke optimisme.

Dilema

Kota dalam dilema urbanisasi adalah ruang pecah tak karuan. Hidup di kota mengandung disintegrasi tanpa naskah. Realitas-realitas kota menjadi dalil adaptasi dan afirmasi melalui tubuh sampai mimpi. Kota sebagai ruang kehidupan baru menjelma sebagai kamar semrawut. Afrizal Malna mengisahkan: Kami putar impian-impian Amerika, seperti/makhluk-makhluk setiap saat sibuk mengubah diri. Kaum urban hidup dengan impian-impian terlalu dini atau ilusi.

Afrizal Malna pun mengingatkan: ”Kota seperti etalase dihuni jam weker yang buas di situ.” Kota adalah tempat memamerkan barang, uang, gairah, estetika, hedonisme: ejawantah kapitalisme. Kota tumbuh dalam anutan waktu ketat. Hidup masuk dalam teror waktu. Jam weker adalah pertaruhan: selamat atau sekarat. Waktu adalah uang. Waktu menjadi iman mutakhir dengan ritual-ritual mengerikan dan mengharukan.

Kondisi itu membuktikan realitas kota menuntut jurus-jurus ampuh dari kaum urban. Bekerja jadi keharusan untuk memenuhi kebutuhan dari makan sampai identitas. Kaum urban kerap mempertahankan hidup dengan pekerjaan-pekerjaan kasar dalam realitas industrialisasi di kota. Kerja adalah janji keselamatan meski mengandung manipulasi dan distorsi. Pekerjaan pun menentukan makna hidup. Kerja adalah ruh urbanisasi.

Pertaruhan-pertaruhan dilematis di kota mengantarkan kaum urban dalam pertanyaan pelik mengenai peran dan kompensasi urbanisasi. Kehadiran kaum urban menjadi klaim untuk operasionalisasi dan pembesaran kuasa kapitalisme. Afrizal Malna mengisahkan: Tetapi siapakah kami, di antara tombol-tombol/ TV, menyentuh sunyi di tengah pasar. Kaum urban mengalami marginalisasi dan alienasi dalam permainan modal dari kuasa kapitalisme. Getir. Kaum urban rentan gagal mencapai impian-impian.

Kota

Kisah urbanisasi itu identik dengan Jakarta sebagai metropolis tunggang langgang. Marco Kusumawijaya (2004) mengingatkan bahwa Jakarta membuat orang-orang frustrasi karena gagal menjadi tempat untuk hidup secara manusiawi. Kondisi itu tak membuat orang-orang mundur atau takut. Urbanisasi terus terjadi tanpa henti. Kota Jakarta ”hamil besar”. Marco membuat konklusi: ”Jakarta adalah kota tunggang langgang dan orang-orang pun tunggang-langgang untuk adaptasi dan kompensasi dalam hukum-hukum modernitas.”

Progresivitas modernitas cenderung memberikan kemapanan dan kenikmatan untuk kelas-kelas sosial pemilik modal. Dominic Strinati (2003) curiga bahwa kapitalisme dan urbanisasi dalam alur modernitas memiliki fungsi menciptakan ”atomisasi”. Kondisi itu membuat kaum urban kurang memiliki hubungan sosial secara bermakna dan koheren. Hubungan-hubungan individu bersifat kontrak, berjarak, dan sporadis. Hubungan atomisasi membuat individu kurang memiliki gagasan mengenai eksistensi, otonomi, dan identitas. Urbanisasi menjelma rumus pembungkaman dan pemusnahan secara sistemik.

Urbanisasi seperti banjir bah: membuat kota semakin penuh dan luber. Kota pun pecah sebagai kampung-kampung besar-sesak oleh manusia, barang, dan masalah. Kondisi itu membuta kota jadi ruang depresi karena alasan kerja, uang, identitas, komunikasi, interaksi, pasar, politik, dan polusi. Kota sebagai pusat impian-impian mengalami kebangkrutan makna dan tubuh-ruang. Urbanisasi adalah tanda seru dari kondisi represi dan depresi.

Kota-kota besar adalah sasaran urbanisasi: mengumpul dan meluber. Beban kota semakin berat karena kenaikan intensitas dalam tegangan-tegangan hidup dengan acuan primer uang. Kota adalah tempat mengeruk uang demi hidup. Dalil urbanisasi untuk mempertahankan hidup atau meninggikan martabat justru menimbulkan efek-efek kasar dalam tuntutan kapitalisme. Hukum-hukum kapitalisme menjadi konstitusi ajaib dan hegemonik sebagai penentu nasib dan harga hidup manusia. Begitu.

Bandung Mawardi Pengelola Jagat Abjad Solo 

Sumber: Kompascetak, 3 Februari 2013

 

Afrizal dan Puisi Peristiwa

Oleh Geger Riyanto

Artikel Bandung Mawardi di Kompas (3/2) menarik untuk memicu diskusi tentang puisi Afrizal Malna. Sayangnya, tulisan itu sendiri berhenti setelah meraba bahwa ada recik gambaran kenyataan urban dalam karyanya, tak membawa kita lebih jauh dari pembacaan yang nyaris sama tuanya dengan usia kepenyairan Afrizal sendiri.

Sejak setidaknya Abad yang Berlari pada tahun 1984, puisi-puisi Afrizal dibicarakan sebagai simbolisasi kehidupan urban. Banyak yang lantas lekas mengamininya—sekurangnya, tidak menolaknya—lantaran kesamaan ”cita rasa” antara puisinya dan realitas kota. Kedua teringkus dengan satu kata: kekacauan. Sebagaimana keselarasan adalah hal yang terkesan jauh dari kota, tata bahasa adalah hal yang terasa asing dari puisi khaotiknya.

Namun menjumpai pembacaan urbanisme yang menembus Afrizal lebih jauh dari sebatas menemukan keserupaan antara larik-larik disfiguratifnya dengan kehidupan keras dan serak-semarak kota pun adalah hal yang sulit (pembacaan Tia Setiadi dan Acep Iwan Saidi, yang bernas, saya anggap di luar tema ini). Pembacaan puisinya sebagai visualisasi tata bahasa atas benda-benda pun—yang kemudian berkembang menjadi pembacaan relasi dan tirani obyek atas manusia pada 1990-an dan 2000-an—tak lain berasal dari manifesto Afrizal sendiri.

Pertanyaannya, mungkinkah puisi yang demikian fragmentatif—dan membuat banyak pembacanya frustrasi ini—diselami lewat suatu cara baca yang sistematik? Di luar tak sedikit pembaca yang menyerah, mereka yang memilih melanjutkan membacanya pun biasanya mencoba untuk tidak memahami karyanya. Cukup dinikmati saja. Ada yang membentuk obyek-obyek puisi Afrizal dalam imajinasinya lalu menontonnya. Ada yang membayangkan diri berada di tengah-tengah aliran tak beraturan kata-katanya dan membiarkan diri tenggelam di antaranya. Dan bagi mereka yang melakukan ini, memang, sajak-sajak itu nikmat.

Namun, pembacaan yang tidak melibatkan perangkat kognitif semacam itu sebenarnya sebuah petunjuk. Menikmati karya sastra, mengutip alur berpikir kritik strukturalis, tak dimungkinkan tanpa adanya keserupaan logika di antara karya terkait dengan realitas perasaan yang dihidupi pembacanya. Sajak-sajak Chairil tak mungkin memperoleh perhatian yang didapatnya sekarang bila kalimatnya dimengerti tetapi pembaca tidak dapat merasakan apa-apa darinya. Puisi dibaca untuk sensasi yang bisa diperah darinya, rasa terbakar oleh entakannya untuk menyitir seorang kritikus, dan, tentu saja, bukan untuk informasi aktual yang bisa diperoleh di halaman lain.

Dan inilah menariknya. Bila Chairil mendayagunakan bentuk, bunyi, dan metafora yang gamblang untuk menikamkan sentakan akustik pada pembacanya, ketiga hal di atas nyaris absen sama sekali dari puisi-puisi Afrizal. Namun, tanyakanlah kepada para pembacanya, sajak-sajak Afrizal tak kehilangan efek merajam perasaan yang lazimnya diperoleh pembaca puisi dari perpaduan cakap perumpamaan yang efektif dengan lantunan pembacaan yang bergaung di ceruk kepalanya.

Ambil sepotong puisi Afrizal, ”palu. waktu tak mau berhenti, palu. waktu tak mau berhenti. seribu jam menunjuk waktu yang bedaberbeda. semua berjalan sendiri-sendiri, palu.” Manakala dibacakan, apalagi secara spontan, puisi ini sukar untuk dibawakan dengan lantang dan berirama. Namun, asosiasi yang ditimbulkan di benak kita bukannya tidak dapat disebut puitik. Ia memiliki efek defamiliarisasi, yang menurut Viktor Shklovsky sebuah kualitas yang biasa kita peroleh dari karya seni yang kita nikmati.

Asosiasi

Kita mencecap karya untuk perasaan keterlemparan dan keterasingan, dan puisi barusan menorehnya dengan menyajikan jukstaposisi hal-hal yang telah kita pahami dalam adegan yang janggal. Waktu diperlakukan seperti algojo kejam yang tak punya rasa iba untuk berhenti dan palu menjadi sosok pendengar aku lirik dalam monolognya yang melankolis; kemudian adegan sontak berganti memperlihatkan jam dengan waktu berbeda-beda dan setiap hal berjalan dengan kesendiriannya masing-masing.

Tidak jelas? Sebaliknya. Saya kira, ketidakberdayaan seorang aku yang kehilangan pegangan akan dimensi kalanya tertoreh dengan sangat nyata di lirik-lirik tersebut. Jarang diketahui, tetapi dalam mengompensasi ketiadaan kiasan yang lazim dan eksperimen bentuk, ada kejernihan visual luar biasa sekaligus pengalaman ragawi yang kuat pada paparan Afrizal. Ini memungkinkan kita, seperti salah seorang pembaca tadi, membayangkan diri tergulung di tengah-tengah puisinya.

Kemenyeharian diksi-diksinya— yang mendatangkan kritik bahwa puisinya tidak elegan—justru memagnifikasi daya kekonkretan imaji yang dipicunya. Tema-tema besar yang lebih banyak kita pahami secara konseptual itu—waktu, dunia, abad, kematian, kota—dipadankan Afrizal dengan kata kerja yang adalah aktivitas kita sehari-hari, menjadikannya pengalaman yang betul-betul terasa di atas kulit dan daging manakala kita melewati lorong larik-lariknya.

Ambil sekali lagi Abad yang Berlari. Abad digambarkan berlari. Yang dari tanah kerja, dari laut kerja, dari mesin kerja. Peta berlari, dari kota datang, dari kota pergi, mengejar waktu. Manusia sunyi disimpan waktu. Dunia berlari. Seribu manusia dipacu tak habis mengejar. Runtutan elemen era kontemporer kita—peta, mesin, kota—dimetaforakan dengan aktivitas ketubuhan yang intens. Meski tak merangkai lirik dengan alur yang kentara, seseorang dapat merasakan, ya, ini dia. Inilah kehidupan modern.

Asosiasi-asosiasi nyaris liar ini sepintas tampak tanpa arti. Namun bacalah dengan pikiran sedang menonton film dan tiba di bagian di mana periode sekian tahun diceritakan dengan kilasan-kilasan adegan. Kejapan-kejapan puisi Afrizal, dibaca demikian, akan menyajikan sensasi terkejar-kejar dan ketidakberartian diri yang mendarah daging. Sebuah sensasi yang merangkum modernitas.

Puisi Afrizal tidak ranggi? Sangat benar. Namun, itulah impresi yang justru dihabisinya guna memperoleh serat-serat pengalaman terdalam realitas kekinian yang selama ini tak teraih puisi. Kehidupan yang tergulung dalam proses produksi kehidupan itu sendiri. Perubahan nan cepat yang nyaris-nyaris tak tercerap. Pesimisme, depresi, dan perasaan rendah diri. Susunan absurd puisi Afrizal menghunjamkannya tepat ke atas pembuluh perasa kita.

Dan kota itu sendiri, sebagai atom dari kehidupan modern, dalam sajak Afrizal tak lagi sekadar sesuatu yang digambarkan, tetapi digambarkan dengan intim. Amat intim. Belantara bangunan dan pusat kehidupan sosial itu bukan lagi menjadi proses-proses jauh di luar sana, tetapi ia—beserta segenap eksploitasi, kekerasan, ketergelungan yang dialami penduduknya—menyesap ke wilayah pengalaman pribadi pembacanya. Lewat sajak-sajak ”peristiwa” Afrizal, kota bukan hanya dibaca, bukan hanya sesuatu yang dikisahkan, tetapi terjadi.

Jadi bacalah. Alamilah. Alamilah kota, dalam puisi Afrizal, sebagai rangkaian peristiwa paradoksal. Kerap gelap. Kerap menyedihkan. Dan tak jarang, bertaburan ingatan, personal, menyentuh….

Geger Riyanto Esais

Sumber: Kompascetak, 10 Maret 2013

 

Kota di Bawah Bayangan Api

Oleh Afrizal Malna 

Saya mengikuti dua tulisan di Kompas Minggu tentang kota dan puisi dari Bandung Mawardi dan Geger Riyanto, Minggu, 10 Maret 2013. Saya tertarik menanggapi, bukan karena kedua tulisan itu melibatkan puisi-puisi saya, melainkan pada bagaimana puisi dibaca melalui kota dan sebaliknya.

Kota dalam biografi saya tidak semata-mata sebuah kawasan civilisasi dengan agenda perubahan yang tidak terbatas. Kawasan yang selalu gelisah untuk memunculkan budaya homey pada warganya. Pengertian pulang—dalam konteks Indonesia—tidak pernah berarti pulang ke kota, tetapi pulang ke kampung. Kota tidak punya pengertian pulang.

Sementara saya lahir di Jakarta dan tidak memiliki kampung sebagai konsep budaya pulang. Sekarang saya hidup di luar Jakarta, tetapi Jakarta tetap ada di dalam saya (yang tidak pernah bisa saya keluarkan kembali). Sebuah kota biografis (untuk saya) yang pernah terbakar dalam peristiwa Malari 1974 dan Reformasi 1998.

Malam hari, setelah peristiwa Malari terjadi, hujan turun dengan deras. Rumah saya, di kawasan Senen, banjir. Semua terasa menjadi hening, penuh ancaman. Telinga saya mendengar sepatu tentara masuk ke dalam rumah, menimbulkan suara air dari sepatu bot mereka yang menyentuh lantai rumah yang telah digenangi air. Mereka menyorot wajah saya yang sedang terbaring di tempat tidur dengan lampu senter. Mereka mencari para penjarah dari bangunan pusat pertokoan Proyek Senen yang telah habis terbakar dalam peristiwa itu. Saat itu, waktu bergerak seperti jarum-jarum runcing. Malam berubah menjadi empat dinding yang mengisolasi kekelaman.

Sejak itu, saya melihat puisi bukan lagi masalah bentuk, bahkan juga bukan masalah sastra. Ia lebih sebuah agenda tubuh dengan ruang yang bekerja melalui kata; melibatkan perspektif seni yang lebih luas dari sekadar sastra dan bahasa. Puisi saya yang dikutip Geger dalam tulisannya, bahkan masih merupakan bagian dari mainstream puisi Indonesia setelah Chairil Anwar (yang begitu sulit saya tinggalkan). Terutama, karena mainstream ini menggunakan kerja seni dalam bahasa. Sementara bahasa Indonesia bukan bahasa ibu, hanya bahasa pengantar yang menghegemoni bahasa ibu.

Saya tidak pernah tahu ”apakah bahasa Indonesia itu?” Apakah bahasa Indonesia saya sama dengan bahasa Indonesia lainnya? Haruskah ada bahasa Indonesia yang sama dalam konteks keberagaman penduduk Indonesia yang masih menggunakan bahasa ibu dalam ruang primordial mereka.

Bahasa Indonesia untuk saya adalah ”bahasa jalanan” yang tidak pernah memiliki rumah walau mendapatkan klaim nasional. Bahasa yang tidak punya pulang, sama seperti kota. Karena itu, setiap orang Indonesia, terutama penyair, memiliki ruang besar untuk melakukan personalisasi terhadap bahasa Indonesia. Sekaligus bahasa yang terancam untuk tumbuh sebagai bahasa yang kehilangan agenda sejarahnya sendiri. Mengalami politisasi seperti peristiwa Orde Baru yang melakukan penyempurnaan terhadap bahasa Indonesia tahun 1973 (lima tahun setelah peristiwa G30S), seakan-akan bahasa Indonesia sebelumnya tidak sempurna.

Biografis

Peristiwa dua kebakaran besar itu (Malari dan Reformasi) telah membuat api biografis setiap saya memandang kota. Api yang selalu menyentuh saya setiap bertemu dengan kota-kota lain yang pernah terbakar. Saya seperti dengan sendirinya jadi bagian dari Berlin ketika berada di kota yang pernah hancur dalam peristiwa Perang Dunia II ini atau dengan Rotterdam.

Realitas bahasa Indonesia dan kota yang saya alami (melalui Jakarta) memunculkan ”petualangan aku” di bawah bayangan api kota dan bahasa jalanan. Petualangan aku dengan identitas sebagai fashion. Identitas fashionable ini merupakan hasil kerja sama antara realitas masa kini yang mengalami alienasi ideologis dari halaman belakangnya dan tidak punya proyeksi untuk halaman depannya. Tubuh menjadi satu-satunya pegangan untuk mengalami ruang dan gerak. Melihat bahasa dan sejarah sebagai kamus dan buku dengan prolog dan epilog yang penuh kecurigaan untuk membaca isinya. Lembaga konservasi nasional untuk bahasa, sejarah, seni, dan ilmu tidak pernah menjadi agenda utama untuk mengatasi alienasi ideologis atas halaman belakang kita.

Identitas fashionable tumbuh sebagai bagian arus eksternalisasi dalam ruang kultur. Kota yang dibanjiri media reproduksi dalam kultur urban merupakan arus utama berubahnya ranah aku-eksternal yang tidak mengenali lagi ruang aku-internalnya. Para penyair yang terlalu percaya pada posisi aku-lirik yang diambilnya dari modernisme sastra menjadi bagian dari yang mengalami alienasi ideologis dari halaman belakang dan halaman masa kininya sendiri. Kehilangan ruang kontemporer yang dialami tubuhnya. Romantik dengan aku-internal dalam pergaulan aku-eksternal yang terbelah. Masih percaya bahasa sebagai istana untuk puisi.

Istana puisi itu telah terbakar melalui ”perang soft-power” yang berlangsung sejak 20 tahun belakangan ini. Konsep ruang dan waktu mengalami perubahan tidak lagi dalam pengertian bagaimana komunitas-komunitas masa lalu harus kehilangan ruang reproduksinya. Tetapi juga bagaimana kita harus hidup dalam timbunan ruang sebagai komoditas, dan waktu sebagai kontrol ingatan yang dialami masyarakat kontemporer. Seni kontemporer yang semakin menuju ke art plastic tumbuh seperti melihat dunia sebagai sebuah gudang yang disusun lagi di bawah bau barang-barang bekas, daging yang dikeluarkan dari pembekuan lemari es, cerita yang dikeluarkan dari peti mati politik media, cahaya yang dieksploitasi untuk mengisolasi sumber cahaya. Mengubah materi menjadi media. Aku-eksternal kian membesar, meninggalkan aku-internal dalam ladang-ladang kesunyiannya.

Dua puluh tahun yang diwarnai oleh banyak perubahan yang berkaitan dengan cara-cara kita melihat kebudayaan dan identitas kemanusiaan kita: penelitian DNA, kontrol keuangan internasional, agresivitas sub-sub kultur urban, berbagai penemuan teknologi yang bisa digunakan masyarakat luas, seperti GPS, mesin ATM, masalah populasi penduduk dunia, dan ancaman krisis pangan. Istana puisi itu telah terbakar, bahkan panasnya sudah tidak bisa kita rasakan lagi karena api yang membakar istana itu juga telah menjadi api plastik.

Permainan rima melalui bunyi bahasa yang berlangsung dalam puisi-puisi klasik mengandaikan konstruksi kekuasaan antara penyair di dalam istana dan kekuasaan di dalam bahasa. Aku-lirik tidak bisa dikembalikan ke ruang puisi seperti ini melalui bahasa karena ruang reproduksinya memang sudah tidak ada. Kembali ke ruang puisi seperti ini cenderung kembali melakukan salonisasi bahasa. Para penyair yang panik kehilangan puisi masuk ke dalam gudang bahasa, memulung bunyi dalam kata untuk menemukan emosi bahasa. Kesulitan memosisikan waktu dan sejarah di dalam bahasa.

Perlawanan terhadap emosi puisi, bahwa perasaan itu membelenggu, tidak membebaskan, pernah berlangsung tahun 1960 di Perancis melalui kelompok penulis yang menyebut diri mereka Oulipo (Ouvroir de Litterature Potentielle). Dua orang (matematikus dan penyair), Francois de Lionnais dan Raymond Queneau memulai kelompok ini sebagai workshop atau laboratorium puisi. Mereka menolak puisi sebagai produk perasaan, dan mendekatkan puisi dengan matematika. Bahasa menjadi sebuah permainan di luar aku-internal.

Ketika perasaan ditolak dalam puisi, di manakah aku ditempatkan? Kekuasaan media berada dalam garis ideologi jurnalisme yang memosisikan aku sebagai super-ego publik dalam realitas masa kini kita, terutama super-ego publik melalui ranah politik, ekonomi, dan dunia selebritas. Di luar ranah itu, aku mengalami desentralisasi melalui komunikasi dan konsumsi yang terkontrol. Aku terfragmentasi sedemikian rupa, memiliki media yang sama, tetapi sendiri-sendiri. Realitas aku yang dialami tubuh bukan lagi aku-tunggal, melainkan aku-majemuk dengan banyak kesibukan semu melalui media sosial dalam ruang internet.

Pengertian kota dalam ranah aku-eksternal seperti itu sama dengan agenda padat untuk mengonsumsi perubahan, berlangsungnya migrasi identitas, terutama mengalami desentralisasi tubuh melalui kecantikan, makanan, fashion, transportasi, dan komunikasi. Aku-eksternal yang terus berlalu tanpa ruang jeda. Aku dan tubuh kehilangan ruang bersama. Puisi dalam kota seperti ini sama seperti usaha menemukan kembali bayangan manusia, bayangan kehidupan di bawah cahaya agenda kota yang mengisolasi bayangan kita.

Afrizal Malna Penyair

Sumber: Kompascetak, 17 Maret 2013