Teori Relativitas Cinta

Kita berdua sudah seperti ruang dan waktu. Tak tergarap sebagai variabel yang bebas satu sama lain. Kita saling terikat. Walau jarak tubuh kita berjauhan. namun, kita berpacu untuk melebihi kecepatan getaran. Ya. Kecepatan jalar gelombang elektromagnetik rindu. Yang membuat energi hidup kita bertambah setiap saat. Untuk sebuah jumpa. Dalam satu kesepakatan: bahwa Energi perjumpaan adalah Massa tubuh kita dikalikan dengan kecepatan Cahaya rindu kuadrat. E= m.c2. Duh.

Kini, yang paling kubutuhkan adalah relativitas Newton. Memegang erat-erat tanganmu yang gemulai. Memandangi bulu lentik matamu. Mengikat emosi dengan tali keinginan. Keinginan yang telah begitu tinggi untuk sebuah titik-pusat-massa temu. Tentu menuntut perbandingan lurus dengan tubrukan penafsiran hunjam. Luruh dalam gaya-tarik gravitasi sebuah cumbu. Menekuni gerak chaos spontanitas. Menjadi pemilik semesta yang kosmik. Melestarikan gerakan dalam relativitas Galileo: keteraturan orbit. Berporos, melingkar, menindih, mengutub, sampai mengentah. Ya. Gerak momentum yang bertumbukan pada sebuah acuan kesepakatan: sublimasi kenikmatan.

Relativitas dalam cinta memang seolah sebuah keharusan. Tapi kita sudah melampaui Newton dan Galileo. Para penguasa juga telah membuat friksi dan mendistorsi teori Einstein: merakit bom atom. Bom dahsyat yang meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki. Dan, kita bukan sekadar bom biasa. Kita berdua adalah dinamit. Yang selalu siap meledak: dalam dentuman gairah yang menghardik halilintar di malam-malam kesunyian. Yap. (2010)

Doa Kata

oleh: john ferry sihotang

(di doa itu, tuan bahasa tersenyum, melihat aku-kata yang bertapa: kata yang sepi, bersemadi, mencari kau-ada di rimba-kata. dalam hiruk dan kutuk, matanya bercahaya.)

kucari kau-ada di pohon-pohon kata. hanya kegagahan menyapa. kudekati ranting-rantingmu, mereka serapuhku. kutelisik jejak-mu pada daun-daun, hanya kujumpai retaknya warna. aku turun menjejak tanah. berlari di ladang ilalang jalang, mengejarmu. aku nyaris terperangkap, semak belukar di sekujurku. kutanya kau pada pelupuk rumput-rumput, mereka hanya menggeleng. nadi doaku pun mengalir, susuri anak sungai-sungai. kusibak tiap batang dan bilur padi. juga kuncup dan putik bunga-bunga. kau, tiada. hingga aku terdampar di bibir samudera. saat kupeluk diam di atas karang-karang, aku disapu oleh badai. ombang-ambing amuk ombak itu hempaskan aku di atas wadas nan perkasa. burung-burung ikut tertawa, bersama semilir angin dari nyiur yang mencibir.

aku telah mencarimu ke segala penjuru. telah kusisir cakrawala, yang berlapis cadar jingga, mencari kau-ada. dan lidah sudah kelu, menyeru pada bisu. berteriak di atas pelangi, bertanya pada matahari, “kau di mana?” sang surya berlalu, sesungkurku di ujung senja.

mulut juga sudah penuh busa, mengutuk bukit-bukit dan batu-batu. pada satu remang, kupacu awan kelabu, menuju langit suarga. aku tersandung senyum sumbing rembulan, terdampar entah di mana.

tetapi, kini, di satu beranda gunung, di antara sudut langit dan tanah basah. samar-sama ada suara, saat aku menanti sebuah bening, di sebuah semadi hening. dalam peluh airmata, kujumpa sebuah telaga. tahta abadi “tuan-bahasa”. aku-kata, bermandi cahaya.

2010

Cahaya

oleh: john ferry sihotang

kita peziarah di panggung sunya
getir silih ganti irama doa
cemas tiup giring detak nada
air mata redup peluk tawa bahagia
cahaya keluar dari balik puisi

kujumpa surga di bilik senyummu

dan engkau kebenaran masa kecilku
riang mainnya singkap kerudung pagiku
pulang rindunya singsing kelambu malamku
liuk lambainya pandu tarian hujanku
urai detiknya hitung kulit usiaku

kusapa Tuhan di pelangi wajahmu

pun kerinduan waktu akan turun ke bumi
berulang dalam hasrat kelana tualang
saat pukau menyatu dalam kala abadi
jiwa buana petik putik padi
menyusuri nadi nadi semadi

kubawa matahari berlabuh di tubuhmu
borneo, 28 mei 2010

(selamat hari raya waisak 2554)