Dunia setelah Virus Korona

Badai akan berlalu. Tetapi pilihan yang kita buat sekarang akan mengubah hidup kita pada tahun-tahun mendatang.

Yuval Noah Harari
Portrait by Charlie Surbey. Digital manipulation by Hitandrun. [Sumber: The Times]
 Oleh Yuval Noah Harari

[Diterjemahkan oleh John Ferry Sihotang dari Yuval Noah Harari: the world after coronavirus pada Financial Times, 20 Maret 2020.]

Hari-hari ini umat manusia menghadapi krisis global. Barangkali krisis terbesar pada generasi kita. Keputusan yang dibuat oleh orang-orang dan pemerintah dalam beberapa minggu ke depan boleh jadi akan menentukan wajah dunia pada tahun-tahun mendatang. Ia akan menentukan tak cuma sistem kesehatan kita, tetapi juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita mesti bertindak cepat dan tegas. Kita juga mesti menimbang konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita. Ketika hendak memilih sebuah alternatif, kita harus bertanya kepada diri sendiri, bukan hanya bagaimana mengatasi wabah ini sesegera mungkin, tetapi juga bertanya dunia macam apa yang kelak kita huni selepas badai krisis ini. Ya, badai akan berlalu, manusia akan selamat, sebagian besar dari kita akan tetap hidup–tetapi kita akan mendiami dunia yang tak sama lagi.

Akan banyak tindakan darurat berorientasi jangka pendek menjadi bagian hidup kita; begitulah watak alami hal darurat. Tindakan-tindakan itu akan mempercepat proses sejarah. Keputusan yang di masa normal butuh pertimbangan bertahun-tahun, kini ditetapkan dalam hitungan jam. Teknologi yang masih mentah dan bahkan berbahaya dipaksakan ke dalam layanan publik, karena risiko akan lebih besar jika tak melakukan apa-apa. Kini seluruh negara menjadi kelinci percobaan dalam eksperimen sosial berskala raksasa. Apa yang bakal terjadi ketika semua orang bekerja dari rumah dan cuma berkomunikasi jarak jauh? Apa yang bakal terjadi ketika seluruh sekolah dan universitas di-online-kan? Di masa normal, pemerintah, pimpinan perusahaan, dan pemangku pendidikan tidak akan pernah setuju melakukan eksperimen semacam itu. Tetapi ini bukanlah masa normal.

Di masa krisis ini, kita berhadapan dengan dua pilihan penting. Pertama, antara pengawasan totaliter dan pemberdayaan warga negara. Kedua, antara isolasi nasional dan solidaritas global.

Pengawasan di Bawah-Kulit

Untuk menghentikan epidemi, masyarakat haruslah patuh pada tatanan yang ditetapkan. Ada dua jalan utama mencapai ini. Metode pertama adalah pemerintah memantau warga dan menghukum siapa saja yang melanggar aturan. Hari ini, untuk kali pertama dalam sejarah manusia, teknologi memungkinkan hal itu: memantau semua orang setiap saat. Lima puluh tahun lalu, lembaga intelijen KGB tidak akan mampu mengawasi 240 juta warga Soviet selama 24 jam sehari, dan KGB tidak akan mampu memproses seluruh informasi yang dikumpulkan itu secara efektif. KGB mengandalkan manusia sebagai agen maupun analis, dan mustahil menempatkan seorang agen rahasia buat menguntit setiap warga. Tetapi sekarang pemerintah bisa mengandalkan sensor yang ada di mana-mana dan algoritma adekuat ketimbang mengandalkan mata-mata berdarah-daging.

Dalam pertempuran melawan korona, beberapa pemerintahan telah menggunakan berbagai perangkat pengawasan mutakhir. Yang paling mencolok adalah Tiongkok. Pemerintah memantau ketat ponsel tiap orang, memanfaatkan ratusan juta kamera pemindai wajah, dan mewajibkan tiap orang memeriksa serta melaporkan suhu tubuh dan kondisi kesehatan mereka; dengan siasat seperti itulah otoritas Tiongkok bukan cuma bisa mendeteksi secara cepat siapa saja yang dicurigai terjangkit virus korona, tetapi juga bisa melacak pergerakan mereka dan mengidentifikasi dengan siapa saja mereka berkontak. Sejumlah aplikasi seluler digunakan memperingatkan warga perihal kedekatan jarak mereka dengan pasien terinfeksi.

Teknologi macam ini tidak sebatas di Asia Timur. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini memberi wewenang kepada Badan Keamanan Israel untuk memasang teknologi pengawasan–yang biasanya dikerahkan memerangi teroris–guna melacak pasien virus korona. Ketika komisi terkait di parlemen menolak mengesahkan langkah tersebut, Netanyahu merombaknya menjadi “Surat Keputusan Darurat”.

Anda boleh jadi berpendapat bahwa tidak ada yang baru tentang semua ini. Toh dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah maupun korporasi telah menggunakan teknologi yang lebih canggih untuk melacak, mengawasi, dan memengaruhi orang-orang. Sekalipun demikian, jika kita tidak waspada, epidemi ini mungkin akan menjadi penanda penting dalam sejarah pengawasan. Bukan hanya karena ia dapat melumrahkan penyebaran alat pengintai massal di negara-negara yang selama ini menolaknya, tetapi lebih pada bahwa ia menandai sebuah peralihan dramatis dari pengawasan “di atas kulit” ke pengawasan “di bawah permukaan kulit”.

Sejauh ini, saat jari anda menyentuh layar telepon pintar dan mengklik sebuah tautan, pemerintah ingin tahu apa yang persisnya anda klik. Tetapi oleh wabah virus korona, fokusnya jadi berubah. Sekarang pemerintah ingin tahu suhu jarimu dan tekanan darah di bawah kulitmu.

‘Puding’ Keadaan Darurat

Salah satu masalah yang kita hadapi ketika bernaung di bawah rezim pengawasan adalah bahwa tak seorang pun dari kita tahu persis bagaimana kita diawasi dan apa akibatnya pada tahun-tahun mendatang. Teknologi pengawasan berkembang dengan kecepatan sangat tinggi; apa yang tampak sebagai fiksi ilmiah 10 tahun lalu kini menjadi berita usang. Sebagai eksperimen gagasan, coba bayangkan suatu pemerintahan yang mewajibkan setiap warga mengenakan gelang biometrik untuk memonitor suhu tubuh dan denyut jantung selama 24 jam sehari. Data yang dihasilkan itu ditimbun dan dianalisis oleh algoritma pemerintah. Algoritma itu akan tahu kapan anda sakit bahkan sebelum anda menyadarinya dan ia tahu ke mana saja anda pergi dan dengan siapa saja anda bertemu. Rantai infeksi bisa diperpendek secara drastis, bahkan diputus sama sekali. Sistem semacam itu kiranya masuk akal digunakan untuk menghentikan epidemi dalam hitungan hari. Terdengar fantastis, bukan?

Sisi buruknya adalah, ini tentu saja akan memberi legitimasi pada sistem pengawasan baru yang mengerikan. Jika anda tahu, misalnya, bahwa saya mengklik tautan Fox News dan bukannya CNN, ia bisa memberitahu anda sesuatu tentang pandangan politik saya dan bahkan mungkin kepribadian saya. Tetapi jika anda bisa memantau apa yang terjadi pada suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung saya saat menonton sebuah video klip, anda dapat mempelajari apa yang membuat saya tertawa, apa yang membuat saya menangis, dan apa yang membuat saya benar-benar marah.

Penting sekali untuk diingat bahwa kemarahan, kegembiraan, kebosanan, dan cinta adalah fenomena biologis seperti demam dan batuk. Teknologi buat mengenali batuk boleh juga dipakai mengenali tawa. Seandainya korporasi dan pemerintah mulai mengumpulkan data biometrik kita secara massal, mereka bisa mengenal kita jauh lebih baik daripada diri kita sendiri, dan mereka kemudian bisa tak sekadar memprediksi perasaan-perasaan kita, tetapi juga memanipulasi perasaan-perasaan kita dan menjejalkan kepada kita apa pun yang mereka inginkan–-entah itu sebuah produk atau seorang politisi. Pelacakan biometrik akan membuat taktik peretasan Cambridge Analytica terlihat seperti sesuatu yang datang dari Zaman Batu. Bayangkan Korea Utara pada 2030, ketika setiap warga mesti mengenakan gelang biometrik 24 jam dalam sehari. Jika kau mendengarkan pidato Pemimpin Besar dan gelang menunjukkan gelagat kemarahan, tamatlah riwayatmu.

Anda tentu saja boleh menganggap bahwa masalah pengawasan biometrik sebagai tindakan atau kebijakan sementara di masa keadaan darurat; bahwa ia toh akan berlalu setelah keadaan darurat berakhir. Akan tetapi, tindakan temporer punya tabiat buruk menghadapi keadaan darurat berkepanjangan,  karena akan selalu ada keadaan darurat baru yang mengintai di kaki langit. Negara asal saya, Israel, misalnya, menyatakan keadaan darurat selama Perang Kemerdekaan 1948, yang membenarkan berbagai tindakan temporer mulai dari penyensoran pers, penyitaan lahan, hingga pembuatan regulasi-regulasi khusus “membikin puding” (saya tak bercanda). Perang Kemerdekaan telah lama dimenangkan, tetapi Israel tidak pernah mengumumkan berakhirnya keadaan darurat, dan gagal menghapuskan banyak kebijakan “sementara” sejak 1948 (dekrit ‘bikin puding’ darurat akhirnya, dengan kasih sayang yang penuh keharuan, dihapuskan pada 2011).

Bahkan ketika penularan virus korona sudah diturunkan ke titik nol, beberapa penguasa yang rakus data akan berpendapat bahwa mereka perlu mempertahankan sistem pengawasan biometrik karena mereka takut pada gelombang kedua virus korona, atau karena ada ebola galur baru berkembang di Afrika Tengah, atau karena bla bla bla. Perlawanan sengit telah berkecamuk beberapa tahun terakhir karena urusan privasi kita. Krisis akibat virus korona bisa menjadi titik balik perlawanan. Sebab ketika orang-orang diberi pilihan antara privasi dan kesehatan, mereka cenderung memilih kesehatan.

Polisi Sabun

Meminta orang-orang memilih antara privasi dan kesehatan adalah sebenar-benarnya akar persoalan. Sebab ini tawaran yang menyesatkan. Kita layak dan sudah sepantasnya menikmati privasi sekaligus kesehatan. Kita boleh memilih agar kesehatan kita dilindungi dan epidemi virus korona dibasmi bukan dengan melembagakan rezim pengawasan totaliter, tetapi dengan pemberdayaan warga negara. Beberapa minggu terakhir, upaya-upaya paling berhasil mengatasi wabah virus korona dilakukan oleh Korea Selatan, Taiwan, dan Singapura. Meskipun negara-negara ini menggunakan beberapa aplikasi pelacakan, mereka lebih mengandalkan tes secara massal, keterbukaan dalam pelaporan, dan kerja sama sukarela dari publik yang terinformasi baik.

Pemantauan terpusat dan hukuman keji bukanlah satu-satunya cara membuat orang taat pada aturan. Ketika orang-orang diberikan fakta-fakta ilmiah, dan mereka percaya pada otoritas publik yang menyodorkan fakta-fakta itu, warga negara bisa melakukan hal yang benar sekalipun tidak ada Big Brother mengawasi punggung mereka. Masyarakat yang termotivasi secara mandiri dan terinformasi secara baik biasanya jauh lebih berdaya dan lebih efektif ketimbang yang dipentungi–masyarakat bebal yang tak peduli apa-apa.

Coba perhatikan, misalnya, mencuci tangan dengan sabun. Hal ini menjadi salah satu kemajuan terhebat dalam peradaban kebersihan manusia. Laku sederhana ini menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun. Mungkin kita menganggap sudah sewajarnya begitu, tetapi baru pada abad ke-19 para ilmuwan menyadari pentingnya cuci tangan pakai sabun. Sebelumnya, bahkan para dokter dan perawat melakukan satu pembedahan ke pembedahan lain tanpa cuci tangan. Sekarang ini miliaran orang cuci tangan setiap hari, bukan karena mereka takut ‘polisi sabun’, tapi karena mereka mengerti fakta-faktanya. Saya cuci tangan dengan sabun karena saya pernah mendengar soal virus dan bakteri, saya paham bahwa mahluk renik ini mendatangkan penyakit, dan saya tahu bahwa sabun sanggup mengenyahkannya.

Tetapi, untuk sampai pada tingkat kepatuhan dan kerja sama seperti itu, anda perlu kepercayaan. Orang perlu mempercayai sains, mempercayai otoritas publik, dan mempercayai media. Selama beberapa tahun terakhir, politisi-politisi yang tak bertanggung jawab telah sengaja meremehkan sains, otoritas publik, dan media. Para politisi golongan ini mungkin sedang terpikat akan jalan lempang menuju otoritarianisme, dengan berdalih bahwa anda tidak boleh percaya publik untuk melakukan hal yang benar.

Normalnya, kepercayaan yang tergerus bertahun-tahun tak mungkin dibangun kembali dalam semalam. Tapi ini bukan waktu normal. Di dalam situasi krisis, pikiran kita juga bisa berubah secara mendadak. Anda boleh jadi bertengkar hebat dengan saudara kandung anda selama bertahun-tahun, namun ketika keadaan darurat terjadi, tiba-tiba kalian menemukan mata air tersembunyi menetesi rasa percaya dan kasih sayang, dan lalu bergegas saling membantu. Ketimbang membangun sebuah rezim pengawasan, belum terlambat kiranya membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan, terhadap otoritas publik, dan terhadap media. Kita memang mesti menggunakan teknologi baru, namun teknologi ini haruslah memberdayakan kita sebagai warga. Saya setuju untuk mengecek temperatur tubuh dan tekanan darah saya, namun data tersebut seharusnya tidak digunakan untuk menciptakan sosok pemerintah mahakuasa. Sebaliknya, data itu dapat membantu saya membuat pilihan pribadi yang lebih baik sekaligus meyakinkan pemerintah bertanggung jawab pada putusannya.

Kalau saya bisa melacak kondisi kesehatan saya 24 jam sehari, saya akan belajar tidak hanya apakah saya telah membahayakan kesehatan orang lain, tetapi juga belajar tentang kebiasaan apa saja yang penting buat kesehatan saya. Jika saya bisa mengakses dan menganalisis statistik terpercaya tentang penyebaran virus korona, saya akan bisa menilai apakah pemerintah memberi tahu saya hal yang benar dan apakah ia menerapkan kebijakan yang tepat untuk memerangi wabah itu. Setiap kali bicara tentang pengawasan, ingatlah bahwa teknologi yang sama bisa digunakan tidak hanya oleh pemerintah untuk mengawasi individu–tapi juga oleh individu untuk mengawasi pemerintah.

Karena itu, epidemi virus korona merupakan ujian penting kewarganegaraan. Di hari-hari mendatang, tiap-tiap kita mestinya memilih untuk percaya pada data ilmiah dan pakar kesehatan ketimbang pada teori konspirasi tak berdasar dan para politisi bedebah. Jika kita gagal membuat pilihan yang tepat, karena berpikir bahwa inilah satu-satunya cara melindungi kesehatan kita, itu sama saja artinya kita melemparkan kebebasan paling berharga kita ke dalam comberan.

Kita Perlu Rencana Global

Artikel Yuval Noah Harari berjudul “Who Will Win the Race for AI” pada Foreign Policy Magazine

Pilihan penting kedua yang kita hadapi adalah antara isolasi nasional dan solidaritas global. Epidemi itu sendiri dan krisis ekonomi yang mengikutinya merupakan masalah global. Ia bisa diselesaikan secara efektif hanya lewat kerja sama global.

Pertama dan terutama, untuk mengalahkan virus kita perlu berbagi informasi secara global. Itulah keunggulan besar manusia dibanding virus. Virus korona di Tiongkok dan virus korona di Amerika Serikat tidak bisa bertukar kiat tentang bagaimana cara menginfeksi manusia. Namun, Tiongkok bisa memberi banyak pelajaran berharga kepada Amerika Serikat tentang virus korona dan bagaimana menanggulanginya. Apa yang ditemukan seorang dokter Itali di Milan di pagi hari mungkin bisa menyelamatkan nyawa di Teheran malam harinya. Ketika pemerintah Inggris ragu-ragu soal beberapa kebijakan, mereka bisa mendapatkan nasihat dari Korea yang sudah menghadapi dilema serupa sebulan sebelumnya. Tapi agar hal ini terjadi, kita perlu semangat kerja sama dan kepercayaan global.

Negara-negara harus bersedia berbagi informasi secara terbuka dan dengan rendah hati meminta saran, dan semestinya bisa mempercayai data serta wawasan yang mereka dapatkan. Kita juga perlu usaha global untuk memproduksi dan mendistribusikan peralatan medis, terutama alat-alat tes pendeteksi dan alat bantu pernapasan. Alih-alih setiap negara mencoba melakukannya secara lokal dengan menimbun peralatan apa pun yang mampu ditimbun, upaya global yang terkoordinasi bisa mempercepat produksi dan memastikan peralatan penyambung nyawa terdistribusi lebih merata. Sebagaimana negara-negara menasionalisasi industri strategis di masa perang, pertempuran manusia melawan virus korona mengharuskan kita untuk “memanusiawikan” jalur produksi krusial. Negara kaya yang menghadapi sedikit kasus virus korona mestinya bersedia mengirim peralatan berharga ke negara miskin yang menghadapi banyak kasus, dengan rasa percaya bahwa jika suatu ketika mereka butuh bantuan, negara-negara lain siap sedia membantu.

Tampaknya kita boleh mempertimbangkan upaya global serupa untuk penempatan tenaga medis. Negara-negara yang saat ini sedikit terdampak bisa mengirimkan tenaga medis ke kawasan-kawasan yang terkena dampak terburuk di dunia, selain membantu mereka di saat-saat kritis, juga demi mendapatkan pengalaman berharga. Jika di kemudian hari pusat epidemi bergeser, bantuan bisa dikerahkan ke arah sebaliknya.

Kerja sama global juga sangat dibutuhkan dalam bidang perekonomian. Mengingat sifat global kegiatan ekonomi dan rantai pasokan, jika setiap pemerintahan cuma mengurusi persoalannya sendiri dan tak peduli negara lain, hasilnya adalah kekacauan dan krisis yang makin parah. Kita perlu sebuah rencana aksi global, dan kita perlu itu segera.

Hal lain yang dibutuhkan adalah kesepakatan global terkait lalu lintas perjalanan. Menangguhkan semua perjalanan internasional selama berbulan-bulan akan menciptakan kesengsaraan luar biasa serta menghambat perang melawan virus korona. Perlu kerja sama antarnegara supaya mengizinkan bepergian setidaknya bagi para orang-penting: ilmuwan, dokter, jurnalis, politisi, pengusaha. Hal ini bisa terwujud bila ada kesepakatan global mengenai penapisan awal terhadap para turis penting itu oleh negara asal mereka. Kalau anda tahu bahwa yang diizinkan naik pesawat hanya mereka yang sudah diperiksa secara cermat, anda akan lebih berterima pada kedatangan mereka ke negara anda.

Sialnya, negara-negara saat ini enggan melakukan semua itu. Akibatnya kelumpuhan kolektif mencengkeram masyarakat internasional, seakan tak ada lagi orang dewasa di muka bumi. Sudah dari berminggu-minggu lalu kita mengharapkan para pemimpin dunia melakukan pertemuan genting guna membahas rencana aksi bersama. Namun para pemimpin negara G-7 baru berhasil mengadakan telekonferensi lewat video pada pekan ini, dan konferensi itu tak menghasilkan rencana apa pun.

Di masa krisis global sebelumnya–seperti krisis keuangan pada 2008 dan epidemi ebola pada 2014–Amerika Serikat masih berperan sebagai pemimpin global. Tapi pemerintahan AS sekarang ini sudah meletakkan jabatannya sebagai pemimpin dunia. Makin terlihat jelas bahwa ia cuma peduli kebesaran Amerika ketimbang masa depan umat manusia.

Pemerintahan Amerika Serikat bahkan sudah meninggalkan sekutu terdekatnya. Ketika memblokade semua perjalanan dari Uni Eropa, ia merasa tak perlu memberitahu apa pun kepada Uni Eropa–apalagi berkonsultasi dengan Uni Eropa terkait perubahan drastis tersebut. Selain itu, pemerintahan AS kini diduga melakukan skandal dengan menawarkan $1miliyar ke sebuah perusahaan farmasi Jerman untuk membeli hak monopoli atas vaksin baru Covid-19. Andaikan pun pemerintahan AS yang sekarang akhirnya berubah dan hadir dengan sebuah rencana aksi global, hanya sedikit negara yang bakal mau mengikuti pemimpin yang tak pernah bertanggung jawab, yang tak pernah mengakui kesalahan, dan yang terus-menerus menangguk semua pujian untuk dirinya sembari melempar semua cela kepada orang lain.

Jika kekosongan yang ditinggalkan Amerika Serikat tidak diisi oleh negara lain, bukan hanya jauh lebih sulit menghentikan epidemi kali ini, tetapi warisannya pun akan terus meracuni hubungan internasional pada tahun-tahun mendatang. Meskipun demikian, setiap krisis adalah kesempatan. Kita berharap wabah kali ini akan membantu umat manusia menyadari bahaya mengerikan yang disebabkan oleh perpecahan global.

Segenap manusia perlu membuat pilihan. Apakah kita akan meneruskan perpecahan, atau mengambil langkah solidaritas global? Jika kita memilih perpecahan, ia bukan sekadar memperpanjang krisis ini, tapi juga mungkin akan mengakibatkan bencana yang lebih buruk di masa depan. Jika kita memilih solidaritas global, itu akan jadi kemenangan, tidak hanya kemenangan melawan virus korona, tetapi juga kemenangan melawan segala epidemi dan krisis di masa depan yang mungkin bakal menghantam umat manusia di abad 21. [*]

Hak Cipta @ Yuval Noah Harari 2020

Sumber artikel: shorturl.at/afhHK

*Dr. Yuval Noah Harari adalah penulis buku Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century. Ia meraih gelar PhD Sejarah dari Oxford University dan sekarang mengajar di Universitas Ibrani, Yerusalem, dengan spesialiasi Sejarah Dunia. Risetnya berfokus pada pertanyaan-pertanyaan besar dalam sejarah, seperti: Apa hubungan sejarah dan biologi? Adakah keadilan dalam sejarah? Apakah orang makin bahagia seiring berjalannya sejarah? Pada 2012 Harari dianugerahi Polonsky Prize for Creativity and Originality in the Humanistic Disciplines.

Buku Yuval Noah Harari
Tiga buku Yuval Noah Harari dari Instagram Harari.

”Ambyar”

Ya, terhadap politik kita sekarang, rakyat kiranya boleh merasa patah hati. Rasanya, kita memang sedang hidup di zaman ewuh-pekewuh, di mana banyak hal jadi serba salah, apalagi politiknya, yang wr-wr-wr, ambyar.

Oleh Sindhunata

20 November 2019

20191119-OPINI-DIGITAL-6_85079427_1574180983-401x432

Seribu kota sudah kulewati. Seribu hati sudah kutanyai. Tapi tak seorang pun mengerti, ke mana kau pergi. Bertahun-tahun aku mencari, belum kutemukan kau juga sampai hari ini. Seandainya kau sudah hidup bahagia, aku sungguh rela. Namun hanya satu permohonanku, aku ingin bertemu denganmu. Walau hanya sekejap mata, sekadar untuk obat rindu di dalam dada.

Itulah sepenggal lagu di antara sekian lagu Didi Kempot yang akhir-akhir ini telah mengharu biru penggemarnya. Lagu-lagu Didi Kempot tercipta dalam bahasa Jawa. Dan sudah lama ia menyanyikannya. Namun, baru akhir-akhir ini lagu-lagunya meledak. Penggemarnya meluas, tak terbatas mereka yang mengerti bahasa Jawa. Bukan hanya orangtua yang gemar lagu campur sari, melainkan juga anak-anak muda bergaya hidup modern dan jauh dari tradisi.

Mengapa lagu-lagu Didi Kempot bisa memeluk demikian banyak penggemar? Karena lagu-lagunya mendendangkan patah hati, cinta yang dikhianati, dan janji yang mudah diingkari. Luka-luka hati itu banyak dialami orang zaman ini. Dan Didi Kempot dirasa bisa mewakili dan menumpahkan perasaan mereka.

Maka kaum patah hati itu berkelompok. Yang laki-laki menamai diri Sad Bois, yang perempuan Sad Gerls. Keduanya berhimpun di bawah nama Sobat Ambyar. Dan pujaan mereka, Didi Kempot, digelari The Godfather of  The Broken-Heart alias The Lord of Ambyar.

Ambyar, kata ini sudah jelas dengan sendirinya. Namun, mengapa kata itu tiba-tiba bisa demikian populer? Lebih-lebih kenapa ambyar itu bisa mewakili perasaan demikian banyak orang? Adakah kata itu hanya menyangkut romantisisme orang di sekitar kesedihan patah hati? Kalau kita bisa bertanya demikian, berarti suatu makna yang dalam ada di dalam kata ambyar. Dan ambyar itu tak bisa hanya dikembalikan ke pengalaman patah hati belaka.

Ambyar seakan adalah kata yang diberikan oleh keadaan zaman agar kita merasakannya secara lebih luas dan mendalam. Ambyar tak cukup dikembalikan pada Didi Kempot lagi. Zaman hanya meminjam ambyar-nya Didi Kempot untuk mengungkapkan gejala dan warta sejarah yang sedang kita alami kini.

Zaman hanya meminjam ambyarnya Didi Kempot untuk mengungkapkan gejala dan warta sejarah yang sedang kita alami kini.

Petaka kemajuan

Dalam khazanah Jawa, sebagai gejala sejarah, ambyar membuka kembali apa yang tersimpan dalam ramalan pujangga Ranggawarsita seperti tertulis dalam Serat Sabda JatiPara djanma sadjroning djaman pekewuh, kasudranira andadi, dahurune saja darung, keh tyas mirong murang margi, kasetyan wus nora katon—di zaman serba susah dan salah ini, nista budi manusia makin menjadi-jadi, ruwetnya hidup terus terjadi, orang-orang sengaja menempuh jalan yang salah, kesetiaan tiada lagi bisa dilihat mata.

Rupanya ramalan Serat Sabda Jati tentang datangnya zaman pekewuh, zaman ruwet, zaman ambyar sedang kita alami sekarang. Di zaman ambyar ini manusia jadi serba salah. Dan seakan ada sebuah kekuatan tersembunyi yang sedang menjerat manusia untuk jadi serba salah.

Zaman ambyar itu bukanlah ramalan akan masa mendatang. Ambyar itu petaka di zaman sekarang. Dan ambyar itulah yang menentukan apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk cita-cita manusia tentang kemajuan.

Maka, kata filsuf Sekolah Frankfurt, Walter Benyamin: pengertian kemajuan itu dasar dan titik berangkatnya adalah petaka. Apa yang terus berjalan maju adalah petaka itu. Dan petaka itu bukan apa yang akan datang, melainkan apa yang terjadi sekarang. Kalau kita bicara penyelamatan, ini hanyalah lompatan-lompatan kecil dari petaka yang terus berkesinambungan itu.

Menurut garis pemikiran itu, masa depan yang gemilang hanya utopia. Yang akan terjadi adalah masa depan sebagai petaka. Atau dalam khazanah Jawa, masa depan itu zaman ewuh-pekewuh, zaman ambyar.

Dalam literatur Barat, tulisan mengenai petaka atau ambyar itu dengan mudah ditemukan, mulai dari tulisan-tulisan filsafat, sosiologi kritis, politik, ekologis, sampai analisis psikologis, sastra, dan refleksi teologis. Jadi, bencana atau ambyar itu tak hanya mengenai alam dan lingkungan hidup, tetapi juga mengenai manusia, pemikiran, rasionalitas, dan kondisi psikisnya.

Petaka atau ambyar dibahas dengan tajam, misalnya, oleh Pankaj Mishra, sarjana keturunan India, dalam bukunya yang terkenal Age of Anger: a History of the Present (2017). Ia menunjukkan, akar dari chaos, petaka dan ambyar-nya zaman ini adalah utopia enlightenment masyarakat Barat. Utopia itu impian indah yang akhirnya mendarat sebagai realitas mimpi buruk di zaman sekarang.

Enlightenment dengan buahnya kapitalisme dan demokrasi liberal ditanamkan ke negara-negara yang tak punya akar tradisi enlightenment Barat. Penanamannya sering dengan tindakan paksa: invasi militer, yang percaya, setelah itu demokrasi akan mekar dengan sendirinya.

Zaman ambyar itu bukanlah ramalan akan masa mendatang. Ambyar itu petaka di zaman sekarang. Dan ambyar itulah yang menentukan apa yang akan terjadi di masa depan, termasuk cita-cita manusia tentang kemajuan.

Utopia enlightenment mendambakan kemajuan dan kemodernan. Namun, sebaliknyalah yang terjadi: anti-kemodernan. Di banyak negara, anti-kemodernan ini berhimpun menjadi aksi radikalisme agama, kekerasan, dan teror.

Menurut Mishra, aksi-aksi itu bukan pertama-tama bertujuan merusak kemapanan yang dimiliki kemajuan dan kemodernan. Sebaliknya, aksi-aksi itu ingin menikmati kemapanan itu. Namun, alam semesta sebagai sumber daya yang terbatas ini pasti tak bisa memberikan apa yang ingin mereka nikmati, apalagi semuanya itu sudah berada di tangan mereka yang maju dan modern.

Akibatnya adalah ressentiment, kebencian. Maka, Mishra mengetengahkan pentingnya kita memahami kembali pemikiran filsuf Rousseau dan Nietzsche. Keduanya berpendapat, ressentiment terjadi karena pengalaman inferior, yang kemudian mengecamukkan perasaan iri hati. Maunya meniru, tetapi tak mampu.

Hasrat meniru itu terus meninggi, sementara kemampuan diri kian tertinggal jauh. Janji-janji kemodernan tentang pemerataan akhirnya hanya mimpi. Si pemimpi kemudian menjumpai realitasnya tak sejalan dengan impiannya.

Hidupnya merana, dalam hal keadilan, pendidikan, status, kekuasaan, dan kesejahteraan. Hidupnya ternyata ambyar. Siapa yang mau ambyar? Maka mereka yang dikecewakan ini frustrasi. Karena frustrasi, mereka lalu marah, protes, jadi radikal, dan tak segan menjalankan aksinya dengan kekerasan. Itulah kemarahan kaum ambyar dalam the age of anger ini.

Lunturnya kesetiaan

Di zaman ini, ambyar tak hanya menyambar politik, ekonomi, ataupun lingkungan. Hubungan personal pun ikut ambyar. Dalam hal personal itu, lagu-lagu mellow Didi Kempot tentang patah hati seakan membahasakan dan melokalkan krisis kesetiaan yang kini tengah menyebar di mana-mana.

Seperti dilaporkan Stephanie Schramm (die Zeit, 7/4/2011), sebuah studi dari Hamburg dan Leipzig, Jerman, pernah memperlihatkan, 90 persen responden menyatakan ingin tetap setia ke pasangan, tetapi 50 persen mengaku setidaknya sekali pernah melanggar kesetiaan itu. Dewasa ini masuknya ”orang ketiga” jauh lebih mudah daripada dulu.

Di zaman ini, ambyar tak hanya menyambar politik, ekonomi atau lingkungan. Hubungan personal pun ikut ambyar.

Setia dianggap bukan hanya setia pada seorang pasangan seumur hidup. Orang juga bisa merasa setia terhadap ”orang lain” yang sedang jadi pasangannya pada suatu saat. Kesetiaan itu bisa menjadi serial, kesetiaan pada pasangan yang berganti-ganti.

Monogami tampaknya kian dirasakan sebagai upaya kultural yang berlawanan dengan kodrat alami dan manusiawi, yang sulit bersetia pada seorang saja.

Karena itu kesetiaan monogami itu sulit dihayati. Juga di kalangan anak muda melebarlah jurang pemisah antara keinginan dan kenyataan di sekitar kesetiaan. Mereka menjunjung tinggi kesetiaan. Namun, praktiknya, dengan mudah mereka berganti pacar atau pasangan.

Fakta ini mengungkapkan sebuah ironi: anak muda ingin berpegang sungguh pada kesetiaan dan mengidealkan kesetiaan sebagai pegangan, justru karena dalam realitas kesetiaan itu sedang ambyar dan sulit dialami.

Studi itu juga memperlihatkan, perselingkuhan banyak terjadi kebanyakan karena si pelaku tertarik akan yang baru. Hubungan dengan pasangannya bisa memuaskan, juga secara seksual. Namun, itu tak menjamin bahwa orang tak bisa tertarik dan kemudian puas dan nikmat dengan yang baru.

Lunturnya kesetiaan semacam ini sering disebabkan oleh sebuah kebetulan, bukan karena disengaja atau direncanakan. Sementara kesempatan untuk jatuh dalam kebetulan itu sekarang tersedia banyak. Sebab, dewasa ini manusia lebih mobile, berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan amat cepat, dan dapat berjumpa dengan ”orang baru” dalam waktu amat singkat.

Lewat internet, orang juga mudah menemukan rangsangan akan yang baru, yang sangat bervariasi dan menarik. Dan itu bisa dialaminya dalam ruang paling privat, bahkan di saat ketika orang berada dekat dengan keluarga atau pasangannya.

Menurut banyak penelitian, psikologi, sosiologi atau antropologi, ketidaksetiaan itu ditentukan banyak faktor. Dan sulitlah memastikan manakah faktor yang paling menentukan.

Kata seorang pakar terapi keluarga, Guy Bodenmann, kesetiaan adalah proses kognitif di mana orang menghasratkan sebuah eksklusivitas. Dan itu mengandaikan bahwa orang mau secara total memberikan komitmennya, emosional dan seksual .

Komitmen demikian butuh kehendak yang kuat dan bulat. Itu artinya untuk menjadi setia, orang harus bersedia dan rela berkorban untuk memberikan dirinya. Justru pengorbanan macam inilah yang sekarang sedang luntur. Tak heran jika kini banyak kesetiaan yang ambyar.

Itu artinya, untuk menjadi setia, orang harus bersedia dan rela berkorban untuk memberikan dirinya.

Sinetron politik ”ambyar”

Seperti dalam cinta, kesetiaan juga merupakan nilai dalam politik. Maka dalam ilmu politik, kesetiaan disebut sebagai keutamaan politik. Politik yang baik tercipta jika politikusnya setia pada janji politiknya, setia pada konstituennya, dan setia pada mitra koalisinya dalam mengejar cita-cita yang disepakati bersama.

Jelas, politik yang baik mengandaikan kesetiaan. Apabila menjunjung tinggi nilai itu, politik serta-merta akan mewujudkan kesetiaan dalam komitmen, serta pemberian dan pengorbanan diri yang jujur dan tulus. Namun, justru dalam politik, orang dengan amat mudah mengkhianati kesetiaan, mengingkari komitmen, dan menjerumuskan diri dalam perselingkuhan politik yang baru.

Jadi, persis seperti atau melebihi perkara cinta, kesetiaan dalam politik itu mudah terjangkiti virus ambyar. Cuma kadar akutnya saja berbeda-beda. Kadang akutnya tak seberapa, kadang menggila. Celakanya, ada gejala, berbarengan dengan merebaknya virus ambyar bersama Didi Kempot, akhir-akhir ini politik kita kelihatan juga terkena virus ambyar dengan sangat akut.

Maka, kalau orang percaya pada kawruh Jawa, mewabahnya Sobat Ambyar Didi Kempot itu juga sasmita yang memperbolehkan kita bertanya, jangan-jangan situasi sosial-politik kita juga sedang ambyar.

Dengan mudah, ambyar itu kita temukan dalam tingkah laku politik kita akhir-akhir ini. Kita boleh lega melihat Prabowo Subianto dan Presiden Jokowi bersatu, dan Gerindra masuk dalam Kabinet Indonesia Maju (KIM).

Namun, pertanyaan kritis tetap boleh muncul: sebegitu mudahkah politikus lupa akan pengorbanan pendukungnya. Di manakah kesetiaan dan komitmen politik mereka pada harapan pendukungnya?

Maklum, sebelum Pilpres 2019, pendukung kedua kubu demikian terbelah, sampai tak terbayangkan sama sekali bahwa pemimpin mereka mau menjalin sebuah koalisi politik.

Politik memang punya 1001 alasan untuk membenarkan diri. Namun, dalam fenomena politik di atas tetaplah terbukti, politik itu tak setia pada janji. Tepatlah jika para pendukungnya merasakan pahitnya lagu ”Cidra”, Didi Kempot: ”Wis samesthine ati iki nelangsa, wong sing tak tresnani mblenjani janji… Gek apa salah awakku iki, kowe nganti tego mblenjani janji… (Sudah semestinya hati ini merana karena yang aku cintai mengingkari janji… Apa salahku, sampai kamu tega mengingkari janji).

Politik yang baik tercipta jika politikusnya setia pada janji politiknya, setia pada konstituennya, dan setia pada mitra koalisinya dalam mengejar cita-cita yang disepakati bersama.

Sinetron ambyar di panggung politik itu terus berlanjut. Baru saja menyatakan janji setia pada koalisi, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh berpelukan mesra dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman.

Media pun ramai dengan adegan itu. Presiden Jokowi pun menyindir, Surya Paloh kelihatan lebih cerah dari biasanya sehabis berpelukan dengan Sohibul.

Dan Presiden Jokowi masih memberi komentar, Saya tidak tahu maknanya apa. Tetapi rangkulan itu tidak seperti biasanya. Tidak pernah saya dirangkul oleh Bang Surya Paloh seerat dengan Pak Sohibul Iman.”

Belakangan, pada perayaan HUT ke-8 Parta Nasdem, bahasa pelukan itu masih berlanjut. Berulang kali Presiden menegaskan, pelukan itu tak ada salahnya. Toh, Presiden masih menyindir juga, pelukan itu hanya masalah kecemburuan.

Begitulah, diskursus politik kita diturunkan derajatnya menjadi masalah pelukan. Sebagian waktu politik kita disita untuk berspekulasi tentang pelukan. Bahasa politik kita menjadi bahasa Sobat Ambyar. Surya Paloh menyatakan sayang” kepada para tokoh. Dan jangan ragukan lagi, betapa saya masih sayang kepada Mbak Mega.” Megawati memperlihatkan senyumnya yang tertahan mendengar sapaan itu.

Namun, orang tahu ini sinetron politik, senyum itu boleh ditafsir sebagai senyum sinis tak percaya. Di mata banyak pemirsa, senyum itu seakan mau bilang, ”mbel”. Atau dalam bahasa Sobat Ambyar, senyum itu adalah lagu: Jebule janjimu jebule sumpahmu, ra biso digugu (Janjimu, sumpahmu, ternyata palsu). Jika bersama dengan fenomena ambyar, kita mau diingatkan akan sasmita zaman ewuh-pekewuh kita haruslah waspada, kepalsuan dan ketaksetiaan akan janji kelihatan akan menjadi warna dari politik kita.

Lihat saja, Pemilu dan Pilpres 2019 baru saja berlalu. Tokoh-tokoh politik sama sekali belum membuktikan diri apakah mereka bisa memenuhi janjinya dari kampanye lalu. Kabinet Indonesia Maju juga belum terbukti kerjanya. Di tengah keadaan demikian sudah terbaca bagaimana politik membuat manuver-manuver agar mereka bisa mempertahankan atau meraih kekuasaan di 2024.

Buat politikus kita, demokrasi seakan hanyalah alat mengejar kekuasaan. Ini sungguh politik ambyarAmbyar karena politik itu menghilangkan jejak dan dasar kelahirannya. Seperti dikatakan filsuf Richard David Precht, politik itu tak lahir dengan sendirinya. Politik itu lahir dari kepercayaan dan kejujuran rakyat.

Rakyat lalu mengharap agar berdasarkan kepercayaan itu politik bertindak bijak, setia, dan tahu diri. Politik yang hanya mengejar kekuasaan berarti menyapu habis dasar kelahirannya itu. Tak peduli dengan kepercayaan dan kejujuran rakyat, prek dengan kesetiaan dan kebijaksanaan. Yang penting, pokoknya, bagaimana meraih kekuasaan.

Politik tak lagi berpikir apa yang terbaik untuk rakyat yang memercayai dan menumpahkan harapan padanya. Yang dipikirkannya hanyalah apa yang terbaik bagi dirinya dan itulah adalah semakin besarnya kekuasaan.

Politik yang hanya mengejar kekuasaan berarti menyapu habis dasar kelahirannya itu.

Politik demikian politik yang tak setia janji. Itulah politik yang sekarang kira rasakan. Maka terhadap politik demikian, bersama Sobat Ambyar, rakyat kiranya boleh memaki: Tak tandur pari, jebul tukule malah suket teki (Padi yang kutanam, ternyata tumbuhnya malah alang-alang).

Ya, terhadap politik kita sekarang, rakyat kiranya boleh merasa patah hati. Rasanya, kita memang sedang hidup di zaman ewuh-pekewuh, di mana banyak hal jadi serba salah, apalagi politiknya, yang wr-wr-wr, ambyar.

[Sumber: Harian Kompas, 20 November 2019, halaman 6]

Pribumi

Oleh Ahmad Arif

Kulit saya coklat dan rambut nyaris lurus. Mata tidak sipit. Sepanjang ingatan, kami turun-temurun dari Jawa, walaupun ayah memberi nama berbau Arab. Setidaknya, sudah empat generasi, nama keluarga kami berbau Arab.

Tampilan fisik saya di atas, pasaran di Asia Tenggara. Asalkan tidak berbicara, saya mudah menyaru di pasar-pasar Malaysia atau Thailand. Bahkan, saat tinggal di Jepang, beberapa kali saya dikira orang setempat dan diajak bicara dalam bahasa lokal.

Di Singapura, sopir taksi cas-cis-cus mengajak bicara Mandarin, bahkan memberi selamat tahun baru Imlek. Sambil berterima kasih, saya katakan saya tidak merayakan Imlek. Ketika saya bilang “asli” Jawa, Indonesia, dia tak percaya. Yakin dia mengatakan, pasti saya keturunan China juga meski berkulit coklat. “Orang Jawa banyak yang campur. Keponakan saya di Surabaya menikah dengan Jawa, anaknya mirip Bapak,” ujarnya.

Ucapan sopir taksi ini seperti menyederhanakan pemikiran pakar genetika populasi asal Italia, Luigi Luca Cavalli-Sforza (2000). Menurut Sforza, ciri fisik berbeda, misalnya warna kulit hitam atau putih, tak lebih sebagai adaptasi terhadap lingkungan yang berbeda. Secara ilmiah, tidak ada alasan menjadi rasis.

Orang berkulit putih karena tubuh mereka tidak mengembangkan unsur melanin-dari kata Yunani melas yang berarti ‘hitam’-sebagai proteksi terhadap sinar matahari. Sebaliknya, masyarakat di zona tropis, mengembangkan warna kulit hitam untuk mengatasi terpaan sinar matahari. Maka, menurut Steve Olson (2003), perbedaan bentuk manusia, tak lebih dari kecelakaan sejarah dan lelucon biologis. Tak lebih dari persoalan topeng atau kostum yang bisa berubah-ubah.

Perjalanan leluhur

Sebagai bagian dari riset “asal-usul manusia Indonesia”, sampel darah saya telah diuji oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi. Ternyata, jejak genetika dalam darah saya justru “membenarkan” prasangka sopir taksi di Singapura itu.

Uji DNA dengan marka mitokondria mengelompokkan saya dalam haplogrup F1a1a. Menurut Soarez (2008), kelompok genetik F1a1a terbentuk di China bagian selatan sekitar 9.000 tahun lalu, kemudian menyebar ke kawasan barat dan selatan Asia Tenggara, seperti Thailand dan Semenanjung Malaysia.

Penanda F merupakan tipe Austroasiatik, yang bermigrasi secara bergelombang ke Nusantara hingga zaman es terakhir sekitar 20.000 hingga 6.000 tahun lalu. Saat itu, bagian barat Nusantara (Jawa, Sumatera, dan Kalimantan) masih menyatu dengan daratan Asia. Migrasi ini jauh sebelum kedatangan penutur Austronesia dari Taiwan (out of Taiwan) ke Nusantara sekitar 5.000 tahun lalu. Perlu dipahami, migrasi yang terjadi bisa jadi tidak searah, sangat mungkin bersifat timbal balik.

Tanda 1a1a di belakang huruf F menunjukkan mutasi gen yang menandai persinggahan leluhur. Semakin panjang huruf dan angka di belakang F, artinya semakin banyak persinggahan selama migrasi dari China selatan sebelum tiba di Jawa.

Jadi, secara maternal atau melalui garis ibu, setidaknya saya memiliki trah China selatan. Walaupun kalau dirunut lebih jauh lagi, gen saya mengabarkan migrasi nenek moyang dari Afrika.

Analisis genetik beragam populasi manusia membuktikan, semua manusia modern atau Homo sapiens berasal dari Afrika yang secara bergelombang menyebar ke berbagai belahan dunia sekitar 120.000 tahun lalu dan 60.000 tahun lalu (out of Afrika). Sebagian kemudian tiba di Papua sekitar 50.000 tahun lalu.

Dengan latar belakang genetik ini, pantaskah saya disebut pribumi, sebagaimana klaim pengunjuk rasa pekan lalu?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan pribumi sebagai “penghuni asli; yang berasal dari tempat bersangkutan”. Jelas bahwa secara bergenerasi saya lahir di Indonesia, bahkan sebelum negara ini terbentuk, nenek moyang saya telah menetap di Jawa.

Mengacu pada definisi itu, bolehlah saya mengklaim diri sebagai “pribumi”, yang oleh Belanda diejek sebagai “inlander” dan dipersamakan dengan anjing. Pengumuman yang dipasang di sejumlah tempat menyebutkan “Verboden voor honden en inlanders” berarti ‘Inlander dan anjing tidak boleh masuk’.

Namun, sekalipun pribumi, ternyata saya bukan orang asli. Tak ada yang benar-benar asli, kecuali mungkin manusia purba seperti Homo erectusatau Java Man, yang diperkirakan menghuni Jawa sekitar 700.000-1 juta tahun lalu. Belakangan ditemukan Homo floresiensis yang diperkirakan mendiami Pulau Flores 100.000-60.000 tahun lalu. Tetapi, bisa jadi, mereka pun dulu bermigrasi entah dari mana.

Daripada mempersengketakan pribumi dan nonpribumi-dikembangkan kolonial Belanda untuk diskriminasi-apa tidak lebih baik memikirkan persoalan besar negeri ini, seperti ketimpangan sosial dan degradasi lingkungan pemicu bencana?***